Nenek Horokubun dan Air Besar = Nen Horokubun Enhov Wear Laai = Horokubun and Air Besar
Susana Juliana Lingitubun, S.Pd., Susan; Margaretha Heatubun, Margaretha; Evi Olivia Kumbangsila, Evi; Dudung Abdulah, Dul
Konon, di Desa Waur Kepulauan Kei Besar, hiduplah seorang nenek bernama Horokubun yang tinggal sendiri. Pekerjaan Nenek Horokubun ialah bertani. Jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal si nenek. Pada suatu hari, setelah menanam, si Nenek Horokubun merasa lapar. Namun, dia tersadar kalau tidak ada air untuk menanak nasi. Akhirnya, si nenek yang sangat lapar pun menangis. Kami akan membantumu, Nek. Jangan khawatir. Nenek harus menangis karena air mata nenek akan menjadi mata air,” ujar ketiga batu. Ketika mendengar perkataan ketiga batu tersebut, menangislah si nenek. Seketika air matanya pun tumpah dan menjadi sebuah mata air kemudian menjadi sebuah sungai yang besar. Air sungai menghanyutkan sebagian ladang si nenek dan beberapa bulir beras. Bulir-bulir beras tersebut tumbuh dan menjadi beberapa pohon sagu di daerah rawa-rawa dan pinggiran sungai. Isi pohon sagu itu seputih beras. Air sungai di ladang si nenek pun sampai sekarang dinamakan Air Besar.
Detail Information
- Publisher
- Kantor Bahasa Provinsi Maluku, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Tahun
- 2022
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-01-11T03:59:48Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah